20 Hadis tentang Akhlak Mulia: Kumpulan Bersumber
Terakhir diperbarui:
Nabi ﷺ merangkum tujuan diutusnya dalam satu kalimat: menyempurnakan akhlak yang mulia. Dengan itu pula Al-Qur'an memujinya — "Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung" (Al-Qalam 68:4). Halaman ini mengumpulkan dua puluh hadis tentang akhlak, kelembutan, lisan, rasa malu dan kasih sayang, dari Bukhari, Muslim, Abu Dawud dan Tirmidzi, masing-masing dengan takhrijnya.
1. Mukmin Paling Sempurna Imannya adalah yang Terbaik Akhlaknya
"Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya." Takhrij: Tirmidzi, Rada' 11 (1162) — hasan sahih; Abu Dawud, Sunnah 15 (4682)
Catatan: Hadis menempatkan akhlak di dalam iman, bukan di sampingnya; keduanya bukan dua timbangan terpisah.
2. Aku Diutus untuk Menyempurnakan Akhlak
"Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia." Takhrij: Ahmad II, 381; Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad 273
Catatan: Tujuan risalah didefinisikan dengan tujuan akhlak.
3. Yang Paling Berat di Timbangan
"Tidak ada sesuatu pun yang diletakkan di timbangan seorang mukmin pada Hari Kiamat yang lebih berat daripada akhlak yang baik. Dan Allah membenci orang yang keji lagi kotor lisannya." Takhrij: Tirmidzi, Birr 62 (2002) — hasan sahih; Abu Dawud, Adab 7 (4799)
Catatan: Bahwa yang paling berat adalah akhlak, bukan banyaknya ibadah, inilah gagasan pokok kumpulan ini.
4. Sebaik-baik Kalian adalah yang Terbaik kepada Keluarganya
"Sebaik-baik kalian adalah yang terbaik kepada keluarganya, dan aku adalah yang terbaik di antara kalian kepada keluargaku." Takhrij: Tirmidzi, Manaqib 63 (3895) — hasan sahih; Ibnu Majah, Nikah 50
Catatan: Akhlak diukur di rumah, bukan di jalan.
5. Bertakwalah kepada Allah di Mana Pun Engkau Berada
"Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada, iringilah keburukan dengan kebaikan niscaya ia menghapusnya, dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik." Takhrij: Tirmidzi, Birr 55 (1987) — hasan
Catatan: Tiga perintah: takwa, perbaikan, dan pergaulan. Yang ketiga adalah wajah lahir dari dua yang pertama.
6. Jangan Meremehkan Kebaikan Sekecil Apa Pun
"Janganlah engkau meremehkan kebaikan sedikit pun, walau hanya bertemu saudaramu dengan wajah yang berseri." Takhrij: Muslim, Birr 144 (2626)
Catatan: Satuan terkecil akhlak yang baik adalah raut wajah.
7. Mukmin Bukan Pencela
"Bukanlah seorang mukmin itu pencela, bukan pula pelaknat, bukan yang keji, dan bukan yang kotor lisannya." Takhrij: Tirmidzi, Birr 48 (1977) — hasan garib
Catatan: Akhlak di sini didefinisikan secara negatif: dengan apa yang harus tidak ada.
8. Hendaklah Berkata Baik atau Diam
"Siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir hendaklah berkata baik atau diam." Takhrij: Bukhari, Adab 31 (6018); Muslim, Iman 74 (47)
Catatan: Diam ditawarkan sebagai pilihan yang setara dengan berbicara.
9. Muslim adalah Orang yang Kaum Muslimin Selamat dari Lisan dan Tangannya
"Muslim adalah orang yang kaum Muslimin selamat dari lisan dan tangannya, dan muhajir adalah orang yang meninggalkan apa yang Allah larang." Takhrij: Bukhari, Iman 4 (10); Muslim, Iman 64 (40)
Catatan: Definisinya bukan sebuah keyakinan yang diucapkan, melainkan rasa aman orang-orang di sekitarmu.
10. Mencintai untuk Saudaranya Apa yang Ia Cintai untuk Dirinya
"Tidaklah beriman salah seorang dari kalian sehingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri." Takhrij: Bukhari, Iman 7 (13); Muslim, Iman 71 (45)
Catatan: Ukurannya bukan hak orang lain, melainkan apa yang seseorang inginkan untuk dirinya.
11. Allah Mahalembut dan Mencintai Kelembutan
"Sesungguhnya Allah Mahalembut dan mencintai kelembutan dalam segala urusan, dan Dia memberi pada kelembutan apa yang tidak Dia berikan pada kekerasan." Takhrij: Bukhari, Adab 35 (6927); Muslim, Birr 77 (2593)
Catatan: Kelembutan disajikan bukan sebagai watak, melainkan sebagai jalan yang membuahkan hasil.
12. Yang Terhalang dari Kelembutan Terhalang dari Kebaikan
"Siapa yang diberi bagian dari kelembutan, ia diberi bagian dari kebaikan; dan siapa yang terhalang dari kelembutan, ia terhalang dari kebaikan." Takhrij: Muslim, Birr 74 (2592); Tirmidzi, Birr 67
Catatan: Sisi kebalikan dari hadis sebelumnya; keduanya menempatkan kelembutan di pusat akhlak.
13. Senyummu adalah Sedekah
"Senyummu di hadapan wajah saudaramu adalah sedekah bagimu." Takhrij: Tirmidzi, Birr 36 (1956) — hasan garib
Catatan: Pengertian sedekah diperluas dari harta ke perilaku.
14. Siapa yang Diharamkan dari Neraka?
"Maukah kalian aku beritahu siapa yang diharamkan atasnya neraka? Ia diharamkan atas setiap orang yang ramah, lembut, dekat dengan manusia, dan mudah." Takhrij: Tirmidzi, Qiyamah 45 (2488) — hasan
Catatan: Syarat keselamatan di sini adalah cara bergaul dengan manusia, bukan banyaknya ibadah.
15. Malu adalah Cabang Iman
"Iman itu tujuh puluh sekian cabang. Yang paling utama adalah ucapan la ilaha illallah, dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan malu adalah salah satu cabang iman." Takhrij: Bukhari, Iman 3 (9); Muslim, Iman 58 (35)
Catatan: Hadis menyebut cabang tertinggi dan terendah, lalu menempatkan rasa malu di antara keduanya.
16. Malu Tidak Mendatangkan Kecuali Kebaikan
"Malu tidak mendatangkan kecuali kebaikan." Takhrij: Bukhari, Adab 77 (6117); Muslim, Iman 60 (37)
Catatan: Sebuah hukum tanpa pengecualian; lafalnya mutlak.
17. Siapa yang Tidak Menyayangi Tidak Disayangi
"Siapa yang tidak menyayangi, ia tidak disayangi." Takhrij: Bukhari, Adab 18 (5997); Muslim, Fadhail 65 (2318)
Catatan: Beliau ﷺ mengucapkannya sebagai jawaban kepada seorang lelaki yang mengaku belum pernah mencium anak.
18. Jauhilah Prasangka
"Jauhilah prasangka, karena prasangka itu sedusta-dusta perkataan. Janganlah kalian mencari-cari kesalahan, jangan memata-matai, jangan saling dengki, jangan saling membelakangi, dan jangan saling membenci. Jadilah kalian, wahai hamba Allah, bersaudara." Takhrij: Bukhari, Adab 57 (6064); Muslim, Birr 28 (2563)
Catatan: Satu hadis menyebut enam perbuatan yang merusak akhlak, dan semuanya bermula dari prasangka.
19. Sebesar Zarah Kesombongan
"Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada kesombongan sebesar zarah." Seorang lelaki berkata: sesungguhnya seseorang menyukai pakaiannya bagus dan sandalnya bagus. Beliau bersabda: "Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia." Takhrij: Muslim, Iman 147 (91)
Catatan: Hadis mendefinisikan kesombongan dan memisahkannya dari selera: persoalannya bukan pakaian, melainkan sikap terhadap kebenaran dan terhadap manusia.
20. Sebaik-baik Manusia
"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia." Takhrij: Ath-Thabrani dalam Al-Ausath; Al-Quda'i dalam Musnad Asy-Syihab
Catatan: Kumpulan ini ditutup dengan ukuran yang mengikat akhlak dari keutamaan pribadi menjadi manfaat umum.
Membacanya sebagai Satu Kesatuan
Dua puluh riwayat ini mengumpulkan akhlak yang baik pada tiga poros. Pertama lisan: hadis-hadis yang menjadikan diam pilihan setara dengan berbicara, yang menafikan laknat dan kekejian dari seorang mukmin, dan yang menyebut enam perbuatan perusak yang semuanya bermula dari prasangka. Kedua kelembutan: disajikan sebagai jalan yang Allah cintai dan yang membuahkan hasil, ditempatkan secara tegas berhadapan dengan kekerasan. Ketiga tempat pengukurannya: bahwa "terbaik" dinilai di rumah, dan bahwa kumpulan ini ditutup dengan manfaat bagi manusia.
Yang menonjol adalah bahwa akhlak tidak pernah diperlakukan sebagai judul kedua di samping ibadah. Ia yang paling berat di timbangan, dengannya kesempurnaan iman diukur, dan dengannya pula seorang Muslim didefinisikan.
Konten Terkait
- 20 hadis tentang sabar
- 18 hadis tentang menuntut ilmu
- 20 hadis tentang shalat
- Asmaul Husna: 99 nama Allah
Alat Terkait
🕐 Jadwal shalat · 🤲 Kumpulan doa · 📿 Penghitung zikir
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Hadis mana tentang akhlak yang paling terkenal? "Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia" (Ahmad II, 381) dan "Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya" (Tirmidzi 1162).
Apakah akhlak didahulukan atas ibadah? Hadis-hadis tidak mempertentangkan keduanya, tetapi menyatakan bahwa akhlak yang baik adalah yang paling berat di timbangan (Tirmidzi 2002) dan menjadikannya ukuran kesempurnaan iman (Tirmidzi 1162).
Apakah berpakaian bagus termasuk kesombongan? Bukan. Nabi ﷺ membedakannya dengan tegas: "Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia" (Muslim 91).