Artikel dan Panduan Islam
Pengetahuan

Keutamaan dan Manfaat Surah Yasin

Terakhir diperbarui:

Surah Yasin adalah surah ke-36 dalam Al-Qur'an, surah Makkiyah berisi 83 ayat tentang kenabian, tanda-tanda kekuasaan Allah di alam, dan kebangkitan. Keutamaannya yang paling terkenal tidak sekuat popularitasnya: riwayat yang menyebutnya "jantung Al-Qur'an" (Jami' at-Tirmidzi 2887) dinilai gharib oleh at-Tirmidzi sendiri dan dinilai palsu oleh al-Albani, dan perintah membacanya untuk orang yang sedang menghadapi kematian (Sunan Abu Dawud 3121) dinilai lemah oleh banyak kritikus hadis, meskipun sebagian besar mazhab fikih tetap menganjurkan amalan itu. Yang pasti adalah pahala yang menyertai bacaan bagian mana pun dari Al-Qur'an, dan kekuatan pesan surah itu sendiri.

Isi Surah Ini

Yasin dibuka dengan dua huruf terpisah, Ya dan Sin, sejenis huruf yang mengawali dua puluh sembilan surah Al-Qur'an, lalu bersumpah: "Demi Al-Qur'an yang penuh hikmah, sungguh engkau termasuk para rasul, di atas jalan yang lurus" (QS. Yasin 36:2–4). Selanjutnya adalah sebuah argumen, bukan kumpulan hukum. Ia tersusun dalam empat bagian.

Para utusan dan negeri itu (36:13–32). Surah ini menceritakan sebuah negeri yang didatangi dua utusan, lalu utusan ketiga untuk menguatkan mereka. Penduduknya menolak dan mengancam mereka. Kemudian "datanglah dari ujung kota seorang laki-laki dengan bergegas" (36:20), mendesak kaumnya agar mengikuti para utusan. Ia dibunuh, dan surah ini menyampaikan apa yang dikatakan kepadanya: "Masuklah ke surga." Jawabannya adalah salah satu kalimat yang paling sering dikutip dari Al-Qur'an: "Aduhai, sekiranya kaumku mengetahui bagaimana Tuhanku mengampuniku dan menjadikanku termasuk orang-orang yang dimuliakan" (36:26–27). Bahkan setelah mati, kepeduliannya tertuju pada orang-orang yang membunuhnya.

Tanda-tanda dalam ciptaan (36:33–44). Surah ini beralih ke alam sebagai bukti. Bumi yang mati dihidupkan dan mengeluarkan biji-bijian (36:33). Siang ditanggalkan dari malam, sehingga manusia berada dalam kegelapan (36:37). Matahari berjalan di tempat peredarannya (36:38), dan bulan melalui manzilah-manzilahnya hingga kembali seperti tandan kurma yang tua dan melengkung (36:39). "Tidaklah mungkin matahari mengejar bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang; masing-masing beredar pada garis edarnya" (36:40). Kapal-kapal membawa manusia mengarungi lautan (36:41). Masing-masing disajikan sebagai tanda bagi pembaca yang diajak merenung.

Hari Kiamat (36:48–68). Sangkakala ditiup dan manusia bangkit dari kubur (36:51). Penghuni surga disambut dengan "Salam — sebagai ucapan dari Tuhan Yang Maha Penyayang" (36:58). Tentang orang-orang yang mendustakan, surah ini berkata: "Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; tangan mereka akan berkata kepada Kami dan kaki mereka akan memberi kesaksian terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan" (36:65).

Jawaban tentang kebangkitan (36:77–83). Surah ini ditutup dengan seorang laki-laki yang membawa tulang yang telah lapuk dan bertanya: "Siapakah yang dapat menghidupkan tulang-belulang yang telah hancur luluh?" Jawabannya: "Yang akan menghidupkannya ialah Dia yang menciptakannya pertama kali, dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk" (36:78–79). Lalu: "Sesungguhnya urusan-Nya, apabila Dia menghendaki sesuatu, Dia hanya berkata kepadanya, 'Jadilah!' maka jadilah ia" (36:82).

Pusat surah ini adalah akhirat: bahwa manusia akan dibangkitkan, bahwa amal mereka dicatat — "Kami mencatat apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan" (36:12) — dan bahwa Dia yang menciptakan mereka sekali dapat menciptakan mereka lagi. Inilah kemungkinan salah satu sebab surah ini begitu erat dikaitkan dengan kematian dan orang yang sedang menghadapinya.

Riwayat-riwayat Keutamaan dan Derajatnya

Banyak riwayat tentang Surah Yasin diulang-ulang dalam ceramah, aplikasi, dan buku saku cetakan. Sebagian besar tidak memenuhi standar kesahihan, dan beberapa ditolak oleh para ahli. Riwayat-riwayat itu disajikan di sini beserta penilaian para kritikus.

"Bacakanlah Yasin kepada orang-orang yang akan meninggal di antara kalian"

Ma'qil bin Yasar meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda: "Bacakanlah Yasin kepada orang-orang yang akan meninggal di antara kalian" (Sunan Abu Dawud 3121; Sunan Ibnu Majah 1448). An-Nasa'i juga meriwayatkannya dalam 'Amal al-Yaum wa al-Lailah, dan Ibnu Hibban memasukkannya ke dalam Sahih-nya, yang berarti ia menganggapnya sahih.

Kritikus lain tidak menerimanya. Sanadnya melalui Abu Utsman, yang tidak dikenal identitasnya, dan ayahnya, yang juga tidak dikenal, dan sebagian perawi menambah atau menghilangkan satu mata rantai dalam sanadnya. Ibnul Qaththan mengkritiknya karena alasan-alasan ini, ad-Daruquthni menyebut sanadnya lemah, dan al-Albani menilainya lemah (dha'if). Inilah riwayat terkuat yang khusus tentang Yasin, dan masih diperselisihkan.

"Segala sesuatu memiliki jantung, dan jantung Al-Qur'an adalah Yasin"

Anas meriwayatkan lafal ini, dengan tambahan: "Siapa yang membaca Yasin, Allah mencatat baginya untuk bacaannya itu pahala membaca Al-Qur'an sepuluh kali" (Jami' at-Tirmidzi 2887). At-Tirmidzi menyebut hadis ini gharib — hanya dikenal melalui satu jalur — dan berkata bahwa salah satu perawinya, Harun Abu Muhammad, tidak dikenal. Abu Hatim ar-Razi menyebutnya tidak berdasar, dan al-Albani menilainya palsu (maudhu'). Inilah keutamaan Yasin yang paling sering dikutip, dan termasuk yang paling lemah.

Riwayat-riwayat lain

  • Ampunan bagi yang membacanya di malam hari. Satu riwayat dari Jundub menyebutkan bahwa siapa yang membaca Yasin di malam hari karena mengharap wajah Allah akan diampuni. Ibnu Hibban memasukkannya ke dalam Sahih-nya; kritikus lain mempertanyakan sanadnya.
  • Satu versi dalam Musnad Ahmad. Ma'qil bin Yasar juga diriwayatkan berkata bahwa Yasin adalah jantung Al-Qur'an dan tidak ada yang membacanya karena mengharap Allah dan akhirat kecuali ia diampuni. Sanadnya mengandung perawi yang tidak disebutkan namanya, dan al-Albani menilainya lemah.
  • Kebutuhan sehari terpenuhi. Satu riwayat dalam Sunan ad-Darimi menyebutkan bahwa siapa yang membaca Yasin di awal hari akan dipenuhi kebutuhannya. Riwayat ini dibawakan oleh Atha' bin Abi Rabah, yang hanya berkata bahwa hal itu sampai kepadanya, tanpa menyebut seorang sahabat. Riwayat seperti ini mursal dan tergolong lemah.
  • "Yasin itu sesuai niat orang yang membacanya." Ucapan ini sangat luas diulang sebagai hadis. As-Sakhawi, dalam al-Maqashid al-Hasanah, berkata bahwa ucapan ini tidak ada asalnya.

Kesimpulannya

Banyak ulama, di antaranya an-Nawawi, membolehkan mengamalkan hadis lemah dalam perkara keutamaan amal, dengan syarat riwayatnya tidak terlalu lemah, amalnya memiliki dasar dalam sumber yang tetap, dan keutamaannya tidak diyakini sebagai sesuatu yang terbukti. Menurut pandangan itu, membaca Yasin dengan mengharap pahala yang disebutkan dapat diterima. Riwayat yang dinilai palsu, seperti hadis "jantung Al-Qur'an" menurut al-Albani, berbeda persoalannya: tidak boleh dikutip sebagai sabda Nabi ﷺ tanpa menjelaskan derajatnya.

Membaca Yasin untuk Orang yang Menghadapi Kematian: Pendapat Para Mazhab

Meskipun hadisnya lemah, membaca Yasin di sisi orang yang sedang menghadapi kematian dianjurkan dalam mazhab Hanafi, Syafi'i, dan Hanbali. Para ulama mereka bersandar pada riwayat di atas, pada penerimaan Ibnu Hibban terhadapnya, dan pada riwayat dalam Musnad Ahmad bahwa para guru terdahulu biasa berkata bahwa jika Yasin dibacakan untuk orang yang akan meninggal, kematiannya akan diringankan.

Mazhab Maliki lebih berhati-hati. Imam Malik tidak menyukai pembacaan Yasin di sisi orang yang sekarat dijadikan tradisi yang baku, dan sebagian ulama Maliki belakangan membolehkannya.

Para ulama juga berbeda tentang kata mautakum dalam hadis itu. Sebagian besar memahaminya sebagai "orang-orang yang akan meninggal di antara kalian", yang berada di ambang kematian, karena bacaan pada saat itu dapat didengar dan mengingatkan mereka akan pertemuan dengan Allah. Sebagian memperluasnya kepada jenazah, dengan membacanya di kubur atau setelah kematian. Pertanyaan kedua itu termasuk dalam perbedaan yang lebih luas tentang apakah pahala bacaan Al-Qur'an sampai kepada orang yang telah meninggal: mazhab Hanafi dan Hanbali berpendapat sampai, sedangkan pendapat yang diriwayatkan sebagai pendapat masyhur mazhab Syafi'i adalah tidak sampai, meskipun ulama Syafi'i belakangan menerimanya jika pembaca memohon kepada Allah agar pahalanya diberikan kepada si mayit.

Mengapa Tetap Layak Sering Dibaca

Semua ini tidak membuat Yasin kurang layak dibaca. Setiap surah membawa pahala bacaan: Nabi ﷺ bersabda bahwa siapa yang membaca satu huruf dari Kitab Allah mendapat satu kebaikan, dan setiap kebaikan dilipatgandakan sepuluh kali (Jami' at-Tirmidzi 2910, dinilai hasan sahih gharib oleh at-Tirmidzi). Surah dengan 83 ayat membawa pahala itu ribuan kali lipat tanpa memerlukan klaim khusus apa pun.

Perlu juga diketahui seperti apa keutamaan khusus surah yang sahih, agar bisa dibedakan dari yang lemah. Nabi ﷺ bersabda tentang Al-Ikhlas bahwa ia setara dengan sepertiga Al-Qur'an (Sahih al-Bukhari 5013). Yasin tidak memiliki riwayat sekuat itu.

Nilai sejatinya ada pada isinya. Ia bisa dibaca dalam sekitar lima belas menit, menyampaikan argumennya melalui kisah alih-alih hukum, dan terus kembali pada pertanyaan-pertanyaan yang benar-benar dibawa manusia: apakah hidup ini satu-satunya, apakah ada yang mencatat, dan apakah orang mati akan bangkit.

Cara Mendekatinya

Bacalah terjemahan dalam bahasa Anda bersama teks Arabnya setidaknya sekali. Yasin adalah surah yang berargumen, dan argumen yang tidak bisa Anda ikuti tidak akan menjalankan perannya. Perhatikan laki-laki dari ujung kota, dan ayat-ayat penutup tentang tulang dan perintah "Jadilah".

Jika Anda menghafalnya, Anda akan memiliki surah yang bisa dibaca di sisi orang sakit, dalam salat malam, atau kapan saja — dengan pahala yang menyertai setiap bacaan Al-Qur'an.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Benarkah Surah Yasin adalah "jantung Al-Qur'an"?

Ungkapan ini berasal dari Jami' at-Tirmidzi 2887. At-Tirmidzi menyebutnya gharib dan mencatat bahwa satu perawinya tidak dikenal; Abu Hatim ar-Razi menyebutnya tidak berdasar dan al-Albani menilainya palsu. Lafal serupa dalam Musnad Ahmad juga lemah. Gambaran ini populer tetapi tidak tetap sebagai sabda Nabi ﷺ.

Apakah membaca Yasin untuk orang yang sekarat itu sunnah?

Hadis "Bacakanlah Yasin kepada orang-orang yang akan meninggal di antara kalian" (Sunan Abu Dawud 3121) diterima oleh Ibnu Hibban dan dinilai lemah oleh yang lain, termasuk ad-Daruquthni dan al-Albani. Mazhab Hanafi, Syafi'i, dan Hanbali menganjurkan amalan ini; Imam Malik tidak menyukai jika dijadikan tradisi baku. Membacanya di sisi orang sakit luas diamalkan dan bagaimanapun juga merupakan bacaan Al-Qur'an.

Apakah membaca Yasin sekali setara dengan membaca Al-Qur'an sepuluh kali?

Pahala itu hanya muncul dalam riwayat yang sama dengan "jantung Al-Qur'an" (Jami' at-Tirmidzi 2887), yang dinilai palsu oleh al-Albani. Riwayat itu tidak boleh dijadikan pegangan. Pahala yang tetap adalah sepuluh kebaikan untuk setiap huruf yang dibaca.

Bolehkah Yasin dibacakan untuk orang yang sudah meninggal?

Membacanya di kubur atau setelah kematian bergantung pada dua persoalan yang diperselisihkan ulama: apakah hadisnya merujuk kepada orang yang sekarat atau yang sudah meninggal, dan apakah pahala bacaan sampai kepada mayit. Mazhab Hanafi dan Hanbali berpendapat sampai; pendapat klasik mazhab Syafi'i adalah tidak sampai, sementara ulama Syafi'i belakangan menerimanya jika pembaca memohon kepada Allah agar pahalanya diberikan kepada si mayit.

Adakah waktu khusus untuk membaca Surah Yasin?

Tidak ada hadis sahih yang mengaitkan Yasin dengan waktu tertentu, seperti pagi hari atau malam Jumat. Riwayat tentang pagi hari dalam Sunan ad-Darimi bersifat mursal dan lemah. Yasin bisa dibaca kapan saja, termasuk dalam salat malam.

Bolehkah membaca Yasin untuk hajat tertentu?

Anda boleh membaca bagian mana pun dari Al-Qur'an lalu memohon kepada Allah apa yang Anda butuhkan; berdoa setelah membaca Al-Qur'an adalah amalan yang benar. Ucapan "Yasin itu sesuai niat orang yang membacanya" tidak ada asalnya menurut as-Sakhawi, dan rumus-rumus baku — seperti mengulang ayat tertentu dalam jumlah tertentu untuk hasil tertentu — tidak memiliki sumber dalam kitab-kitab hadis.

Di situs ini

Artikel Lainnya